Postingan

FILSAFAT CROOT: SEBUAH KAJIAN TENTANG HASRAT, EGO, DAN TUJUAN HIDUP

# FILSAFAT CROOT: SEBUAH KAJIAN TENTANG HASRAT, EGO, DAN TUJUAN HIDUP Oleh : Armunadi  *Peringatan: tulisan ini mengandung pemikiran yang berpotensi mengganggu keseriusan orang-orang yang terlalu serius.* Suatu hari, seorang teman bertanya kepada saya dengan wajah yang tampaknya sedang menanggung beban peradaban: “Menurutmu, untuk apa kita hidup? Apa yang sebenarnya kita cari?” Saya tahu pertanyaan semacam ini bisa berbahaya. Salah menjawab, kita bisa terjebak dalam diskusi tiga jam, membicarakan eksistensialisme, hakikat keberadaan, kehendak bebas, sampai akhirnya pulang dengan kepala pening dan tagihan kopi yang tidak ikut menjadi tercerahkan. Maka saya memilih jalan keselamatan. “Hidup itu untuk croot!” Bagi yang belum mengenal istilah ini, croot adalah bahasa rakyat untuk orgasme laki-laki. Sebuah istilah yang mungkin tidak akan pernah dipakai dalam sidang filsafat, kecuali suatu hari Plato bangkit dari kuburnya dan nongkrong di warung kopi bersama anak-anak tongkrongan. Teman ...

Polemik Anjing

Polemik Anjing Tidak ada makhluk yang namanya paling sering dipanggil manusia dalam keadaan marah selain anjing. Lalat yang mengganggu disebut lalat anjing. Preman  yang bermasalah dipanggil preman anjing. Seseorang yang membuat kesal diteriaki anak anjing. Menariknya, anjing itu sendiri jarang diberi kesempatan membela diri. Ia tidak hadir di forum bahasa, tidak duduk di meja peradaban, dan tidak pernah menandatangani kontrak sosial dengan manusia. Namun namanya terus dipinjam—tepatnya: dicuri—untuk mewakili segala bentuk kekesalan, kegagalan, dan keburukan. Padahal, jika ditanya secara jujur, anjing tidak pernah berbuat sejauh itu. Anjing tidak pernah korup. Anjing tidak pernah berkhianat demi jabatan. Anjing tidak pernah menggonggong nilai moral sambil mencabik di belakang. Namun justru namanyalah yang paling sering dijadikan makian. Di sisi lain, kita hidup dalam paradoks yang lucu sekaligus ironis. Anjing yang sama, dengan spesies yang sama, bisa memiliki martabat yang sangat ...

Minangkabau Tidak Pernah Ditaklukkan Majapahit

Minangkabau  Tidak Pernah Ditaklukkan Majapahit Oleh : Armunadi  Sejarah Nusantara kerap ditulis dari sudut pandang Jawa. Salah satu narasi yang terus diulang adalah klaim bahwa Minangkabau pernah ditaklukkan oleh Majapahit. Namun, bila kita teliti lebih dalam, klaim ini tidak hanya rapuh secara bukti, tapi juga bertentangan dengan logika sejarah. Di Minangkabau, tidak pernah ditemukan prasasti atau tambo yang mencatat penaklukan oleh Majapahit. Sebaliknya, yang muncul adalah kisah kemenangan lokal, seperti peristiwa di Padang Sibusuk, di mana pasukan Jawa disebut-sebut kalah telak hingga banyak yang tewas. Jika benar Minangkabau pernah ditaklukkan, seharusnya ada jejak kuat—dalam bahasa, arsitektur, agama, atau sistem pemerintahan. Faktanya, jejak itu tidak pernah ada. Sering kali klaim penaklukan didasarkan pada prasasti Kutorejo (1284 M) tentang Ekspedisi Pamalayu, ketika arca Amoghapāśa dikirim ke Dharmasraya. Banyak yang menafsirkannya sebagai simbol supremasi Jawa. Namun...

Trisintesis Kebangsaan: Menjaga Api, Bukan Abu

Trisintesis Kebangsaan: Menjaga Api, Bukan Abu Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, dan di sebuah lapangan kecil, sekelompok anak berseragam putih merah berdiri berbaris. Sepatu mereka mungkin tak mengilap, beberapa bahkan mulai robek di ujungnya, tapi mata mereka memandang tiang bendera dengan kesungguhan yang membuat dada kita panas-dingin. Di kejauhan, seorang kakek mengenakan peci hitam lusuh, berdiri tegap sambil menyanyikan “Indonesia Raya” tanpa melihat teks. Suaranya serak, tapi setiap kata seperti keluar dari tempat yang lebih dalam dari sekadar kerongkongan—dari sebuah janji lama yang belum tuntas. Sejak proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, pertanyaan terbesar kita bukan hanya “bagaimana merebut kemerdekaan,” tapi “bagaimana mengisinya.” Banyak pikiran besar lahir dari masa itu, menawarkan jalan yang berbeda-beda, semua dengan niat yang sama: memastikan negeri ini berdiri tegak, makmur, dan bermartabat. Dalam jejak sejarah, ada benang merah: bangsa ini butu...

## **Minangkabau Tak Bertakhta**

## **Minangkabau Tak Bertakhta** ### *Menemukan Urat Budaya di Tengah Jejak Kekuasaan dan Luka Bangsa* **Catatan Anak Nagari** --- Kadang, yang paling disalahpahami adalah yang paling diam. Minangkabau sudah ribuan tahun berdiri, tapi ia tak pernah mendirikan istana. Tak satu pun benteng dibangun untuk menjaganya, tapi ia bertahan. Orang datang dan bertanya: siapa rajamu? Di mana tahtamu? Tapi kami yang lahir dari surau, dari sawah, dari suara bundo di dapur — hanya tersenyum. Karena yang mereka cari bukan yang kami simpan. Sejarah mencatat kerajaan, menulis nama raja, menghitung jumlah pasukan. Tapi kami lahir dari mufakat, bukan titah. Dari Pariangan di lereng Marapi , para ninik mamak pertama kali berseru — bukan untuk memerintah, tapi untuk menyepakati. Kami punya suku sebelum kami punya batas wilayah. Kami punya rumah gadang sebelum kami tahu apa itu istana. Dan kami punya adat, sebelum orang luar memberi kami bendera. Selalu ada dorongan untuk menaklukkan. Maka datanglah narasi b...

# Mantra, Kandang, dan Pawang : Esai Satir Reflektif

# Mantra, Kandang, dan Pawang : Esai Satir Reflektif  Di bawah tenda putih yang disewa dari EO lokal, seratus orang duduk berhadapan dengan panggung kecil. Di atas panggung, seseorang berbicara. Kata-katanya mengalir seperti doa: partisipatif, kolaboratif, transformatif, berkelanjutan. Di layar belakangnya, slide berbunyi: *“Membangun Ekosistem Kreatif Inklusif Berbasis Komunitas”*. Semua tepuk tangan. Tidak ada yang tahu persis apa maksudnya, tapi semua merasa ini penting. Kata-kata hari ini telah menjadi mantra. Ia tidak lagi diucapkan untuk menjelaskan. Ia diucapkan untuk menguasai. Yang paling fasih menyusun kata-kata adalah yang paling dihormati — meski kerap tak satu pun yang ia katakan bisa diuji maknanya. Hari ini kita hidup di zaman *proyek-minded*. Di mana orang-orang berkerumun bukan untuk berbagi gagasan, tapi untuk menyusun proposal. Bukan untuk merancang masa depan bersama, tapi untuk mengisi kolom-kolom anggaran. Bukan untuk bertanya, tapi untuk mendapatkan stempel. ...

Bukit Siguntang di Kaki Marapi: Tafsir Tandingan Asal Usul Melayu

### Bukit Siguntang di Lereng Marapi: Tafsir Tandingan Asal Usul Melayu Pernahkah kita bertanya, mengapa narasi tentang Bukit Siguntang begitu kuat dalam cerita-cerita Melayu, tetapi begitu samar dalam jejak tapaknya? Di Palembang, Bukit Siguntang dipercaya sebagai tempat suci, tempat turun para raja, tempat asal usul keturunan bangsawan Melayu. Namun di Minangkabau, nama itu juga muncul — tidak sebagai dongeng pinggiran, tetapi sebagai bagian dari tubuh tambo yang hidup dan diwariskan turun-temurun. Dalam dokumen sejarah lokal yang ditulis oleh masyarakat Jorong Batur, Tanah Datar, disebutkan dengan jelas: “Perkampungan baru di Galundi Nan Baselo yang disebut juga Bukit Siguntang-guntang Gunung Merapi atau Bukit Siguntang-guntang Mahameru, sekitar abad ke-14...” Penyebutan *Bukit Siguntang-guntang Gunung Merapi* adalah penanda penting. Ia bukan sekadar tumpukan tanah suci, tapi tempat di mana **laku sejarah dan jejak budaya bermula**. Di sinilah — menurut tambo Minangkabau — nenek moy...