Polemik Anjing
Polemik Anjing
Tidak ada makhluk yang namanya paling sering dipanggil manusia dalam keadaan marah selain anjing.
Lalat yang mengganggu disebut lalat anjing.
Preman yang bermasalah dipanggil preman anjing.
Seseorang yang membuat kesal diteriaki anak anjing.
Menariknya, anjing itu sendiri jarang diberi kesempatan membela diri. Ia tidak hadir di forum bahasa, tidak duduk di meja peradaban, dan tidak pernah menandatangani kontrak sosial dengan manusia. Namun namanya terus dipinjam—tepatnya: dicuri—untuk mewakili segala bentuk kekesalan, kegagalan, dan keburukan.
Padahal, jika ditanya secara jujur, anjing tidak pernah berbuat sejauh itu.
Anjing tidak pernah korup.
Anjing tidak pernah berkhianat demi jabatan.
Anjing tidak pernah menggonggong nilai moral sambil mencabik di belakang.
Namun justru namanyalah yang paling sering dijadikan makian.
Di sisi lain, kita hidup dalam paradoks yang lucu sekaligus ironis. Anjing yang sama, dengan spesies yang sama, bisa memiliki martabat yang sangat berbeda—bukan karena perilakunya, melainkan karena seragam yang melingkari lehernya.
Anjing jalanan dikejar, diusir, bahkan dilempari batu.
Anjing peliharaan dielus, diberi nama manis, dan diajak tidur sekasur.
Anjing kepolisian—bahkan yang berpangkat kapten—diberi hormat oleh manusia berseragam yang pangkatnya lebih rendah.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi tentang anjing.
Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya sedang kita hormati?
Kesetiaan anjing sering dipuji sebagai nilai luhur. Ia setia pada tuannya, bahkan ketika tuannya salah. Ia patuh pada perintah, bahkan ketika perintah itu berbahaya. Ia tidak banyak bertanya, tidak membantah, tidak menuntut penjelasan. Kesetiaan ini, dalam banyak cerita, dipuja sebagai bentuk kemurnian moral.
Namun bukankah di situlah letak keganjilannya?
Ketika kesetiaan berubah menjadi kepatuhan tanpa nalar, kita memujinya pada anjing—tetapi mencurigainya pada manusia. Ketika anjing menggigit atas perintah, ia disebut terlatih. Ketika manusia melakukan hal yang sama, sering kali ia menyebut dirinya profesional.
Anjing hanya menggonggong jika ada sebab.
Manusia sering menggonggong karena kebiasaan.
Barangkali karena itu, kata anjing terasa begitu fleksibel dalam lidah manusia. Ia bisa menjadi makian, bisa menjadi simbol loyalitas, bisa menjadi alat penghinaan, dan bisa pula menjadi lambang kehormatan. Semua tergantung konteks, kekuasaan, dan siapa yang sedang berbicara.
Ironisnya, dalam banyak situasi, anjing justru tampak lebih jujur. Ia menunjukkan marah dengan menggonggong. Ia menunjukkan takut dengan lari. Ia menunjukkan setia dengan tinggal. Manusia, sebaliknya, sering menyembunyikan gonggongannya dalam pidato, menyamarkan gigitannya dalam senyum, dan menyebut kepatuhan sebagai pengabdian.
Mungkin itulah sebabnya anjing sering dijadikan cermin—meski manusia jarang mau bercermin dengan sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, polemik ini bukan tentang membela anjing atau menyerang manusia. Ini tentang bahasa yang kita pilih, simbol yang kita pakai, dan nilai yang diam-diam kita legitimasi. Bisa jadi, bukan anjing yang terlalu sering disebut dalam makian, melainkan manusia yang terlalu sering kehilangan kosa kata untuk menyebut dirinya sendiri.
Dan jika suatu hari anjing bisa berbicara, mungkin ia hanya akan berkata pelan:
“Aku heran, mengapa setiap kali kalian kehilangan akal sehat, namaku yang kalian panggil.”
Bisa jadi, polemik ini tidak hanya terjadi di benak manusia, tetapi juga di kalangan anjing sendiri. Sebab dunia anjing—sebagaimana dunia manusia—ternyata tidak benar-benar egaliter.
Ada anjing yang lahir di selokan, tumbuh di sisa makanan, dan mati tanpa nama.
Ada anjing yang lahir di halaman rumah berpagar, diberi vaksin, diberi pita di leher, dan dipanggil dengan nama manusia.
Ada pula anjing yang sejak kecil dilatih menggigit atas nama negara, diberi pangkat, dan disematkan kehormatan yang bahkan tidak semua manusia bisa raih.
Di titik ini, anjing bukan lagi sekadar anjing.
Ia telah menjadi kelas sosial.
Anjing jalanan mungkin bertanya dalam diam:
mengapa gonggonganku dianggap gangguan,
sementara gonggongannya dianggap peringatan resmi?
Anjing peliharaan mungkin mulai merasa lebih bermartabat:
ia tidak menggigit, tetapi tetap dihormati karena dekat dengan kuasa.
Sementara anjing berseragam, dengan pangkat di punggungnya, barangkali tak pernah sadar bahwa ia juga sedang menjalankan peran—bukan karena pilihan, melainkan karena sistem.
Jika konflik ini benar-benar terjadi di antara anjing, maka pertikaiannya bukan soal moral, melainkan status. Bukan soal benar dan salah, melainkan siapa yang berhak menggonggong dan siapa yang harus diam.
Ironisnya, hierarki ini tidak dibangun oleh anjing, melainkan diwariskan oleh manusia. Manusialah yang menentukan mana anjing terhormat dan mana anjing terkutuk. Manusialah yang memberi makna pada gonggongan, memberi nilai pada gigitan, dan menetapkan kasta pada leher yang sama-sama berbulu.
Dalam bayangan itu, anjing hanyalah cermin yang memantulkan ulang struktur sosial manusia. Mereka tidak menciptakan ketimpangan—mereka hanya menirunya dengan setia.
Maka mungkin benar: polemik anjing adalah polemik manusia yang terlalu malu untuk menyebut dirinya sendiri.
Pada akhirnya, jika benar di antara anjing pun telah tumbuh kasta dan hierarki, maka polemik itu bukanlah tanda kemajuan, melainkan warisan. Anjing-anjing itu hanya mewarisi dunia yang dirancang manusia: dunia di mana nilai ditentukan oleh tanda di leher, bukan oleh denyut nurani. Dunia di mana menggonggong tanpa kuasa disebut gangguan, tetapi menggonggong dengan mandat disebut pengamanan.
Barangkali tragedi terbesar bukan ketika manusia menyebut sesamanya anjing, melainkan ketika anjing mulai percaya bahwa sebagian dari mereka memang dilahirkan lebih hina dari yang lain. Saat itulah sistem bekerja paling sempurna: ia tak lagi butuh cambuk, tak perlu teriakan, cukup keyakinan yang ditanam rapi bahwa ketimpangan adalah kodrat.
Dan jika suatu hari anjing-anjing itu saling menggonggong dengan kebencian yang sama seperti manusia, maka manusia tak lagi punya alasan untuk marah. Sebab pada titik itu, bukan anjing yang meniru manusia—melainkan manusia yang akhirnya berhasil mencetak dirinya sendiri dalam bentuk yang lebih jujur, lebih setia, dan tanpa rasa bersalah.-- Armunadi
Komentar
Posting Komentar