FILSAFAT CROOT: SEBUAH KAJIAN TENTANG HASRAT, EGO, DAN TUJUAN HIDUP
# FILSAFAT CROOT: SEBUAH KAJIAN TENTANG HASRAT, EGO, DAN TUJUAN HIDUP
Oleh : Armunadi
*Peringatan: tulisan ini mengandung pemikiran yang berpotensi mengganggu keseriusan orang-orang yang terlalu serius.*
Suatu hari, seorang teman bertanya kepada saya dengan wajah yang tampaknya sedang menanggung beban peradaban:
“Menurutmu, untuk apa kita hidup? Apa yang sebenarnya kita cari?”
Saya tahu pertanyaan semacam ini bisa berbahaya. Salah menjawab, kita bisa terjebak dalam diskusi tiga jam, membicarakan eksistensialisme, hakikat keberadaan, kehendak bebas, sampai akhirnya pulang dengan kepala pening dan tagihan kopi yang tidak ikut menjadi tercerahkan.
Maka saya memilih jalan keselamatan.
“Hidup itu untuk croot!”
Bagi yang belum mengenal istilah ini, croot adalah bahasa rakyat untuk orgasme laki-laki. Sebuah istilah yang mungkin tidak akan pernah dipakai dalam sidang filsafat, kecuali suatu hari Plato bangkit dari kuburnya dan nongkrong di warung kopi bersama anak-anak tongkrongan.
Teman saya terdiam.
Saya sempat khawatir ia tersinggung. Jangan-jangan ia menganggap saya tidak menghormati pertanyaan agung tentang tujuan kehidupan.
Satu menit kemudian, ia berkata, “Itu jawaban yang bijaksana.”
Lho?
Saya yang tadinya hendak menghindari filsafat malah mendapatkan pengakuan sebagai filsuf. Bedanya, filsuf pada umumnya membutuhkan buku tebal, sedangkan saya hanya membutuhkan satu kata yang diakhiri huruf T.
Saya pun melanjutkan penjelasan.
“Bayangkan kalau seseorang sudah ereksi maksimal, tetapi tidak pernah bisa orgasme. Hasratnya sudah sampai ke puncak, tetapi tidak memperoleh penyelesaian. Hidupnya bisa penuh tekanan. Barangkali ia akan sibuk mencari pelampiasan, membutuhkan pengakuan, dan menuntut dunia memberikan sesuatu yang tidak kunjung ia dapatkan.”
Teman saya memandang saya dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa percakapan ini tidak bisa lagi diselamatkan.
“Wah, pembicaraan ini semakin dalam,” katanya.
Saya mengangguk. Dalam hati saya berpikir, kalau begini terus, sebentar lagi saya harus menerbitkan buku.
***
## DARI CROOT MENUJU PENDERITAAN UNIVERSAL
Mari kita tinggalkan sebentar persoalan biologis dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika seseorang sedang terikat oleh hasrat seksual, pikirannya mengarah pada satu tujuan. Ada dorongan, ada ketegangan, ada sesuatu yang ingin diselesaikan.
Dunia seakan memiliki satu pusat: apa yang sedang ia inginkan.
Setelah orgasme, hasrat itu mereda. Tubuh menjadi rileks. Mata mulai berat. Sebagian orang bahkan tertidur dengan damai, seolah-olah baru saja menyelesaikan persoalan paling mendesak dalam sejarah umat manusia.
Padahal, dunia tetap sama. Utang belum lunas. Harga cabai tidak turun. Politik masih gaduh. Tetangga masih memutar musik dengan volume yang tidak mengenal konsep toleransi.
Namun, untuk sementara, orang itu tidak lagi merasa harus mengejar pemenuhan yang tadi begitu mendesak.
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang menarik.
Sebelum croot, seseorang sibuk mencari sesuatu. Sesudah croot, ia bisa menikmati keadaan ketika sesuatu itu tidak lagi harus dicari.
Tentu, saya tidak sedang mengusulkan agar pemerintah memasukkan orgasme ke dalam kurikulum filsafat nasional. Saya hanya ingin menunjukkan sebuah pola: hasrat dapat mengikat perhatian manusia, sementara meredanya hasrat bisa menghadirkan kelegaan.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, manusia mempunyai jauh lebih banyak jenis hasrat daripada yang bisa diselesaikan dengan urusan ranjang.
Ada hasrat menjadi kaya. Hasrat menjadi terkenal. Hasrat menjadi penguasa. Hasrat dianggap pintar. Hasrat dipuji. Bahkan, ada hasrat untuk dianggap sebagai orang yang sudah tidak memiliki hasrat.
Yang terakhir ini cukup merepotkan.
Seseorang bisa menghabiskan puluhan tahun mengejar kekayaan, lalu menghabiskan sisa hidupnya mengejar pengakuan bahwa ia orang kaya yang sederhana.
Egonya sudah berganti pakaian, tetapi belum tentu berganti pekerjaan.
## ORANG YANG TIDAK PERNAH SELESAI CROOT
Bayangkan seorang penguasa yang sudah memiliki istana, pengawal, kendaraan mewah, dan orang-orang yang selalu berdiri ketika ia memasuki ruangan.
Apa lagi yang ia cari?
Ternyata masih banyak.
Ia ingin lebih berkuasa. Ia ingin namanya dikenang. Ia ingin orang lain menganggapnya hebat. Kalau perlu, sejarah pun harus diedit agar tidak salah memahami kebesarannya.
Begitu juga dengan orang kaya. Setelah memiliki sepuluh rumah, ia ingin dua puluh. Setelah memiliki dua puluh, ia ingin memiliki perusahaan yang bisa membeli rumah orang lain.
Bukan berarti kekayaan atau kekuasaan itu sendiri selalu buruk. Masalahnya muncul ketika pencapaian tidak pernah dianggap cukup karena ego terus membutuhkan sesuatu yang baru untuk mempertahankan perasaan berharga.
Barangkali orang-orang ini bukan kekurangan objek untuk dimiliki. Mereka kekurangan kemampuan untuk merasa selesai.
Mereka seperti orang yang terus mengalami ereksi eksistensial: hasratnya selalu menyala, ambisinya selalu tegang, tetapi tidak pernah menemukan sesuatu yang membuatnya berkata, “Sudahlah. Cukup.”
Bedanya, kalau urusan seksual memiliki mekanisme biologis yang memungkinkan hasrat mereda, ego manusia bisa jauh lebih kreatif dalam memperpanjang penderitaannya.
Baru saja menang, ia ingin menang lebih besar.
Baru saja dipuji, ia ingin dipuji lebih banyak.
Baru saja menjadi orang penting, ia kesal karena ada orang lain yang lebih penting.
Bahkan ketika semua orang sudah mengakui kebesarannya, ia masih bisa gelisah karena seorang tetangga tidak memberikan tanda suka pada unggahan Facebook-nya.
Sungguh, ego adalah makhluk yang tidak tahu berterima kasih. Sudah diberi dunia, masih mengeluh karena dunia tidak memberikan seluruh perhatian kepadanya.
## MASALAHNYA BUKAN PADA HASRAT, MELAINKAN PADA ORIENTASI
Setelah memikirkan persoalan ini, saya sampai pada dugaan bahwa masalah manusia bukan semata-mata karena ia memiliki keinginan.
Keinginan itu wajar. Orang lapar ingin makan. Orang ingin belajar lalu membaca buku. Orang ingin memperbaiki kehidupan lalu bekerja. Tanpa keinginan, kita mungkin akan kesulitan membedakan manusia yang sedang beristirahat dengan manusia yang sudah menyerah kepada kehidupan.
Yang lebih penting adalah ke mana keinginan itu diarahkan.
Orang yang menjadikan kekuasaan sebagai orientasi hidup akan mencari pemenuhan melalui kekuasaan. Orang yang menjadikan kekayaan sebagai orientasi hidup akan mengukur keberhasilannya melalui kekayaan.
Sementara itu, orang yang menjadikan pengenalan diri dan kedekatan kepada Tuhan sebagai orientasi hidup mungkin akan memandang pencapaian dunia dengan ukuran yang berbeda.
Objek yang dicari menentukan bentuk pemenuhan yang diharapkan. Namun, ada persoalan lain: siapa yang menentukan bahwa pemenuhan itu sudah cukup?
Dua orang bisa sama-sama menjadi pengusaha sukses. Yang satu merasa harus terus membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Yang lain memandang usahanya sebagai sarana berkarya, memenuhi tanggung jawab, dan memberikan manfaat.
Dari luar, keduanya mungkin sama-sama sibuk mengejar keuntungan. Tetapi, di dalam dirinya, keuntungan itu menempati kedudukan yang berbeda.
Bagi yang pertama, keberhasilan menjadi bukti bahwa dirinya layak dihormati. Bagi yang kedua, keberhasilan merupakan hasil dari sesuatu yang sedang ia kerjakan.
Kalau usahanya gagal, keduanya tentu bisa kecewa. Namun, tidak semua orang harus mengalami kegagalan usaha sebagai kegagalan dirinya sebagai manusia.
Barangkali inilah yang membedakan memiliki tujuan dengan diperbudak oleh tujuan.
Dan barangkali inilah pula yang membedakan orang yang mempunyai keinginan dengan orang yang hidupnya dikuasai keinginan.
## MATI SEBELUM MATI: EGO PUN PERLU PENSIUN
Dalam tradisi spiritual Islam, ada ungkapan *mati sebelum mati*.
Saya memahaminya sebagai gambaran tentang menanggalkan ego personal yang selalu menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu, lalu mengarahkan kehidupan kepada Allah. Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia tidak harus menunggu kematian biologis untuk berhenti menjadi budak kepentingan dirinya sendiri.
Tentu saja, ini bukan ajakan membunuh diri. Yang dibicarakan adalah kematian dalam pengertian spiritual: berakhirnya dominasi keakuan yang selalu ingin menjadi pusat perhatian, pusat kepentingan, dan pusat penilaian.
Saya membayangkan ego seperti seorang pegawai yang sudah terlalu lama menduduki jabatan direktur.
Semua urusan harus melalui dirinya. Semua keputusan harus menguntungkannya. Semua orang harus mengakui kedudukannya. Bahkan ketika perusahaan sedang membahas kepentingan bersama, ia masih sibuk memastikan namanya dicantumkan dalam notula rapat.
Persoalannya, apakah ego harus dibunuh?
Saya kira tidak sesederhana itu.
Ego tidak bisa dipaksa pergi hanya dengan memarahi diri sendiri. Orang yang terus-menerus berkata, “Aku tidak boleh egois,” bahkan bisa menjadikan keberhasilannya mengalahkan ego sebagai kebanggaan baru.
Ia mulai merasa lebih suci daripada orang lain karena sudah berhasil menanggalkan keakuan.
Luar biasa. Ego ternyata bisa menyamar menjadi petugas pemadam kebakaran, lalu diam-diam membakar gedung yang dijaganya sendiri.
Mungkin yang dibutuhkan bukan perang tanpa akhir melawan ego, melainkan perubahan orientasi kehidupan.
Ketika pusat kehidupan berubah, ego dapat menemukan tempat yang semestinya. Ia tidak lagi menjadi direktur yang mengatur seluruh perusahaan, melainkan kembali menjadi salah satu bagian yang menjalankan fungsinya.
Manusia masih boleh memiliki keinginan, bekerja, berkarya, dan menikmati kehidupan. Ia hanya tidak harus menjadikan seluruh dunia sebagai pelayan bagi keinginan pribadinya.
## SAMSARA: KETIKA PENCARIAN TIDAK PERNAH SELESAI
Dalam Buddhisme, ada konsep *taṇhā*, yakni kehausan atau hasrat yang melekat, yang berperan penting dalam penderitaan. Ada pula konsep *samsara*, siklus kelahiran dan kematian yang berkaitan dengan ketidaktahuan serta keterikatan.
Keduanya tidak persis sama dengan pengalaman seksual yang saya jadikan perumpamaan. Namun, analogi sederhananya bisa membantu kita melihat sebuah pola: manusia dapat terus terikat pada sesuatu yang diyakininya akan memberikan pemenuhan.
Ia memperoleh apa yang diinginkan, merasakan kepuasan, lalu kembali mencari. Apa yang tadinya menjadi tujuan berubah menjadi titik keberangkatan menuju keinginan berikutnya.
Kalau begitu, mungkinkah sebagian penderitaan manusia bukan hanya berasal dari kegagalan memperoleh sesuatu, melainkan juga dari ketidakmampuan menghentikan pencarian?
Cobalah perhatikan betapa seringnya kita berkata, “Kalau sudah punya ini, hidupku pasti tenang.”
Lalu kita mendapatkannya.
Beberapa waktu kemudian, ketenangan itu menghilang dan kita berkata, “Kalau sudah punya yang itu, barulah hidupku benar-benar lengkap.”
Begitu seterusnya.
Kita seperti orang yang terus membeli tiket perjalanan tanpa pernah memeriksa tujuan akhirnya.
Yang penting berangkat. Yang penting mengejar. Yang penting jangan sampai tertinggal dari orang lain.
Ketika ditanya hendak pergi ke mana, jawabannya, “Belum tahu. Pokoknya jalan terus.”
Barangkali masalahnya bukan karena perjalanan itu terlalu panjang. Barangkali kita memang belum pernah memikirkan ke mana kehidupan ini seharusnya diarahkan.
## JADI, UNTUK APA KITA HIDUP?
Kembali kepada pertanyaan teman saya: untuk apa kita hidup, apa yang kita cari?
Saya tidak punya jawaban yang bisa dipaksakan kepada semua orang. Manusia memiliki kehendak bebas dan memahami kehidupan melalui pengalaman serta kapasitas kesadarannya masing-masing.
Namun, saya semakin tertarik pada satu hal: menemukan orientasi hidup.
Bukan sekadar memilih apa yang ingin dimiliki, melainkan menyelidiki apa yang sejak awal menjadi hakikat atau tujuan keberadaan manusia.
Saya membayangkan manusia seperti seseorang yang terus berlari karena merasa ada sesuatu yang kurang. Ia mengumpulkan harta, mencari kekuasaan, mengharapkan pujian, dan membangun identitas. Ia percaya bahwa ketika semua itu terpenuhi, dirinya akhirnya akan merasa utuh.
Tetapi, bagaimana jika yang perlu diubah bukan jumlah hal yang berhasil dikumpulkannya, melainkan cara ia memandang keberadaannya?
Bagaimana jika ia tidak harus menghancurkan ego, tetapi cukup berhenti menjadikannya pusat segala sesuatu?
Mungkin manusia tidak perlu memusuhi keinginan. Ia hanya perlu memahami ke mana keinginan itu membawanya.
Mungkin pula kebebasan bukan berarti berhasil mendapatkan semua yang diinginkan, melainkan tidak lagi diperbudak oleh keharusan untuk mendapatkan semuanya.
Dan jika suatu hari manusia menemukan orientasi yang membuatnya tidak lagi harus membuktikan keberhargaan dirinya melalui segala sesuatu yang dimiliki, mungkin ia akan memahami bentuk ketenangan yang berbeda.
Bukan ketenangan karena semua keinginan sudah terpenuhi, melainkan ketenangan karena dirinya tidak lagi menggantungkan seluruh keberadaannya pada pemenuhan keinginan.
Tentu, ini tidak berarti kita harus berhenti bekerja, berhenti berkarya, atau berhenti menikmati kehidupan. Kita masih boleh mengejar cita-cita, mencari rezeki, jatuh cinta, dan tertawa sampai sakit perut.
Kita hanya perlu sesekali bertanya: apakah kita sedang menggunakan keinginan untuk menjalani kehidupan, atau justru menghabiskan kehidupan untuk melayani keinginan?
Sebab, jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk mencari orgasme kehidupan sampai lupa bertanya untuk apa kita terus-menerus mengalami ereksi eksistensial.
Dan kalau pertanyaan ini membuat Anda merasa tersinggung, tenang saja.
Itu bukan berarti tulisan ini sedang menyerang Anda.
Mungkin hanya ego Anda yang sedang ereksi.
Tinggal tunggu saja, siapa tahu setelah ini ia bisa croot juga.
Siapa tahu.
Komentar
Posting Komentar